Dulu......

nemu ini dokumen pas lagi ngacak-ngacak komputer :D (belum disunting)
Dulu………
Setiap hari, sebelum aku merasakan move on seperti ini, selalu aku terbayangi wajahnya, entahlah, tapi aku sadar, bahwa aku (pernah) menyukai dirinya.
Setiap hari, saat itu, aku selalu sengaja berdiam diri berharap dia lewat, berharap dia menyapaku, berharap dia memberikan senyuman manis, berharap dia berbicara kepada ku, dan berharap, berharap, tetapi kadang itu hanya sekedar harapan saja. Sering juga, aku lama menunggu dia lewat, saat dia lewat, dia hanya sekedar melewati ku tanpa mengabulkan salah satu harapanku, cukup kecewa juga, dia bersikap dingin kepadaku.
Saat aku bosan dengan sikap dia yang dingin itu, aku mencoba untuk tidak melakukan hal-hal itu lagi, aku pikir cukup disini saja, tetapi saat aku bersikap dingin kepadanya, seperti apa yang dia lakukan saat itu, dia mulai menghampiri aku lagi, memberikan senyuman manisnya, dan memberi aku semangat lagi untuk tetap menyukai dirinya.
Sebenarnya, kami saling mengetahui, bahwa kami pernah menyukai satu sama lain, tapi itu dulu sekali, sudah dua tahun yang lalu, saat dia masih memiliki orang lain, mungkin sekarang berbeda, sekarang pun dia sudah sendiri, mungkin juga perasaan kami sudah berbeda, itulah yang aku pikirkan.
Saat aku semangat menyukai dirinya, dia pun memberikan respect yang positif, meskipun sejak dua tahun yang lalu, sikap dia sedikit berubah. Tetapi aku tetap senang, dan menikmati hari-hari mengagumi dirinya.
Pernah suatu hari, saat aku sedang mengobrol dengan temanku, dia sengaja menabrakku dari arah belakang, tapi aku tetap focus pada pembicaraan. Dan sekali lagi dia menabrakku, kali ini dari arah sebaliknya, dan dengan refleksnya, kami saling menatap satu sama lain, dengan waktu yang cukup lama.
Tak berapa lama, sikap dia mulai dingin kembali, dan aku mulai menyadarinya, aku pun mulai bersikap dingin padanya, tapi sekali-kali dia pernah mencairkan sikapku padanya, karena bawaannya yang hangat itu. Meskipun bawaan dia yang hangat, tetapi tetap dia bisa dingin seperti es.
Beberapa bulan kemudian, aku dengar, dia telah memiliki pacar, aku mungkin cukup terpukul dan sedikit kecewa juga, dan aku mau bagaimana lagi. Sebenarnya ada rasa ingin mengungkapkan perasaan ku dulu, tapi memang berat untuk dibicarakan, apalagi setelah ia punya pacar, tak mungkin sepertinya mengungkapkan apa yang pernah aku rasakan terhadapnya sekarang. Meskipun begitu kami tetap teman, dan masih saling senyum saja.
Setelah beberapa minggu, dari sejak itu, meskipun kami teman, tetap saja kami sekarang benar-benar dingin, benar-benar beku, layaknya es yang susah mencair, kami adalah es yang ada di sebuah ruangan yang sepertinya suhunya mencapai minus beratus-ratus derajat Celsius, susah untuk dicairkan di dalam ruangan tersebut.
Meskipun begitu, aku tetap ingin menjadi hangat padanya, dan bisa mencairkan dirinya, tapi susah tetap saja susah, aku malu untuk memulainya terlebih dahulu, aku tak tahu harus bagaimana, meskipun ada pepatah mengatakan ‘banyak jalan menuju roma’, tetap saja susah, mungkin saking banyaknya jalan, aku jadi bingung dan susah memilih jalan yang tepat, dan salah satu factor yang lain, yang mempersulit adalah waktu, jika memang dia yang tidak mau memulainya duluan, mungkin saja aku juga tak akan memulainya duluan.
Sampai saat ini juga, kami tetap dingin, meskipun saling berpapasan, kami belum pernah saling berbicara lagi, meyapa, tersenyum, bahkan saling tatap pun mungkin tidak, kami tidak mau hal ini terjadi sepertinya. Meskipun begitu, kami adalah teman, dan tetap teman dan aku akan mencoba sedikit mencairkan suasana.

Dan akhirnya, saat ini, detik ini, aku sudah positif move on dari dirinya, dan suasana masih tetap dingin, tak apa, sudah menjadi hal yang biasa, dan bukan hal yang mengecewakan lagi. tapi, kapankah suasana kan mencair, dan senyummu kan terpancar, wahai teman?  

(RF)

Komentar