“Ma, aku berangkat dulu ya!”
“iya hati-hati di jalan ya”
“oke ma, dadah”
Hari itu hari pertama aku ujian tengah semester di tahun
ajaran baru, persiapan ujian kali ini sudah sangat matang, setidaknya menurutku
begitu. Seperti biasa, perjalan menuju sekolah diantar amang angkot. Jarak
rumah ke sekolah cukup jauh, tapi bagiku yang sudah terbiasa rasanya dekat
saja, meskipun terkadang menghabiskan 30 menit di perjalanan.
Sebagai siswa kelas sembilan, itu adalah tahun terakhir ku
memakai seragam biru, tahun ajaran baru nanti sudah ganti seragam dan bukan
lagi jadi anak SMP. Aku tidak terlalu ingin buru-buru lulus, masih ingin
menikmati masa putih biru.
Amang angkot berhenti, ternyata aku sudah sampai di gerbang
sekolah. Semua orang terlihat sudah siap akan menghadapi ujian, banyak yang
membawa papan dada. Aku bergegas menuju kelas, karena setiap ujian pasti semua
siswa harus duduk sesuai dengan nomor absen, maka sesampainya aku lekas mencari
tempat duduk yang tertempel nomor absen 35.
“Nah ini dia”
Aku taruh alat perangku hari itu, sambil menunggu bel masuk.
Namun, aku tidak tahu siapa yang akan mengisi bangku sebelah dengan nomor absen
34, sebab aku tidak hafal siapa pemilik nomor absen sebelum aku. Semoga saja
aku duduk bareng Selvi, gumamku.
Masih ada lima belas menit sebelum masuk, ngobrol-ngobrol
santai dengan teman menjadi pilihan yang tepat untuk menunggu bel berbunyi.
Tringgggg
Bel sudah berbunyi, aku lekas kembali ke bangku dan
mendapati kursi sebelah sudah terisi. Ternyata bukan Selvi, tapi orang lain.
Cowok tinggi itu ternyata pemilik nomor absen 34, namanya Reyhan. Semenjak kami
sekelas di kelas sembilan, aku dan Reyhan belum pernah ngobrol, jadi ada sedikit
canggung.
Hari pertama ujian, ujianku lancar, mungkin Reyhan juga
begitu. Interaksi kami hanya sebatas meminjam penghapus, karena saat itu dia
miskin alat tulis. Hm.
Ujian selesai, dan waktunya pulang. Karena semua kegiatan
ekskul di sekolah dihentikan selama ujian, maka setelah ujian aku langsung
pulang, padahal biasanya sebelum pulang sering nongkrong dulu. Dan hari-hariku
begitu saja hingga ujian selesai.
Hari kedua, ujiannya lancar meskipun ada beberapa soal yang
sulit dan kami masih sedikit canggung namun mulai terbiasa.
Hari ketiga ujian dan selanjutnya, kami mulai berdiskusi
bareng dan saling menukar jawaban. Bahkan, yang aku sadari saat itu adalah dia
orang yang asik dan kocak, wajar saja selama ujian aku betah duduk dengan
Reyhan. Tiada hari tanpa pertanyaan dan kelakuan konyol dari dia. Lama-kelamaan
dia mulai berani jail dan aku mulai terbiasa dengan sifatnya itu, namun
terkadang aku juga ngamuk kalau sudah agak kelewatan.
Ujian tengah semester telah berakhir, aku pikir setelah
selesai kami tidak akan duduk satu meja lagi. Tapi ternyata kami masih duduk
bareng sampai ujian akhir semester ganjil. Hehe.
Selama itu juga kami menjadi dekat, sering becanda bareng,
bergosip, mengerjakan tugas bersama-sama dan hal lainnya yang bisa dilakukan
bersama.
***
Kalau kamu penasaran dia orang yang seperti apa, dia itu
sosok yang lucu, humoris, konyol, jail, menyebalkan, baik, bukan orang yang
romantis, tapi terkadang dia bisa manis kok, seorang bintang lapangan juga dan
tidak pintar-pintar amat.
Ngomong-ngomong seorang bintang lapangan nih, Reyhan ini
memang seorang pemain sepak bola yang sering bertanding membawa nama sekolah.
Posisi dia sebagai penjaga gawang, tapi selama aku masih di SMP, belum pernah
lihat dia latihan maupun tanding. Ya tentu saja karena aku tidak tertarik
dengan olahraga sepak bola sih.
Tidak terasa waktu cepat berlalu, banyak kejutan manis tak terduga
yang dia berikan. Mungkin aku tidak akan menceritakan tentang bunga mawar,lolipop
hijau berbentuk hati, nilai PKN, payung saat hujan, ketika UN dan lainnya yang
masih aku ingat. Biarkan itu menjadi kenangan manis yang aku simpan sendiri,
karena akan sangat panjang bila aku ceritakan.
Tapi, akan ada satu yang kuceritakan tentang manisnya dia
yang bikin aku blushing untuk pertama kali.
***
Aku suka pelajaran seni budaya, hari itu kebetulan guru
memberikan tugas akhir untuk melukis di atas kanvas. Aku excited sekali,
karena aku suka menggambar. Pada pertemuan selanjutnya, guru memerintahkan kami
membawa sketsa gambar yang akan di lukis diatas kertas HVS putih, untuk
disetujui sebelum kami memulai bermain kuas.
Tibalah hari dimana kami semua membawa sketsa masing-masing
dan gambar aku disetujui yeay.
Setelah beres mata pelajaran seni budaya, ternyata semua
guru rapat hingga pulang sekolah dan kami tidak dipulangkan.
Jam kosong dan mejaku berantakan, sketsa gambar masih aku
simpan di atas meja. Lagian, pikirku mending nanti saja membereskan meja kalau
bel sudah dibunyikan.
Sambil menunggu bel pulang sekolah, ngobrol depan kelas
bersama teman-teman merupakan hal yang ampuh membunuh kebosanan.
Tringgg, bel pulang sekolah berbunyi, aku cepat kembali ke
meja. Sesampainya aku di meja, aku melihat sketsa gambarku penuh coretan dan
tulisan;
“Aitakatta Sania :*”
Aku sempat kesal, kenapa harus di atas sketsa aku
coba? Aku tengok seluruh penjuru kelas, kira-kira siapa yang berani-beraninya
menulis di atas sketsaku.
Sepertinya aku kenal tulisan ini. yup, benar ini tulisan si
Reyhan! Meskipun aku kesal, tapi aku sedikit senang hehe. Coretan yang mengganggu itu aku hapus, tapi tulisan itu tidak, aku biarkan saja.
“Toh ini cuma sketsa kan, nanti juga digambar lagi di atas
kanvas. Lagian tulisannya gak nutupin skesta, masih keliatan,”
ucapku dalam hati.
Tak pikir panjang, aku rapihkan samua alat tulis ke dalam
tas. Ketika sedang beres-beres, salah satu teman menyuruhku melihat papan
tulis.
“San, coba liat tuh papan tulis”
“hah?”
Aku menengokan kepala mengikuti suruhan menghadap
papan tulis. Reyhan menulis sesuatu di papan tulis, dengan ukuran font yang
sangat besar.
SANIA KAWAII :*
Ya tuhan, aku malu sekali saat itu. Anak sekelas langsung
heboh.
“cieeeeeeee”
Reyhan langsung keluar dari ruangan dan aku bergegas
menghapus tulisan itu.
“ngapain sih dia,” aku kesal.
Sepanjang pulang sekolah, aku masih kepikirkan apa yang
Reyhan lakukan hari ini. Senang dan kesal berkecamuk di dada. Aku bingung
sambil senyum-senyum sendiri, dia bisa semanis, tidak terduga dan mendebarkan seperti itu. Kenapa
dia berani? Buat apa dia melakukannya? Kenapa harus di papan tulis? Di atas
sketsa aku gak cukup? Berani sekali dia bikin aku malu depan anak kelas.
***

Komentar
Posting Komentar