Ini cerita aku tentang kesuksesan melupakan dia yang ku kira belahan jiwa, tapi ternyata si pembelah jiwa.
Hari ini, aku sudah dapat memastikan sudah tidak ada rasa yang tertinggal. Semua tentang dia telah selesai.
Sakit sudah tidak terasa lagi ketika ku lihat dia dengan perempuan lain, pun mendengar namanya, dan mengingat segala tentang dia. Bahkan saat ini, aku sudah bodo amat, tidak peduli dengan kabarnya.
Bergelut dengan keadaan stuck pada satu orang selama 4 tahun itu bukan hal yang mudah. Ketika mencoba melupakan adalah hal yang sulit, dan pada akhirnya aku harus berserah pada waktu, hingga luka ini pulih sendiri.
Adakalanya, aku malah terjebak. Yang ku kira aku telah berdamai dengan masalalu, ternyata aku hanya terbiasa hidup dengan rasa sakit. Hingga akhirnya ada satu orang yang menyadarkan ku akan hal tersebut.
Kamu.
Kamu yang benar-benar selama dua tahun ini berusaha mendapatkan hatiku. Rela berdarah-darah karena aku yang masih terjebak masalalu, namun kamu sabar. Sangat sabar menunggu aku sembuh.
Akhirnya aku pulih, dan mulai mencoba mencintai kamu dengan sepenuh hati.
Lagi-lagi, aku menemukan kesulitan setelah melupakan dia, mencintaimu adalah sisi sukar lain yang harus kutempuh.
Tapi, hingga tulisan ini selesai, aku bisa menerima dan membersamai dirimu untuk waktu yang tak ditentukan. Namun, jika aku diberikan kesempatan untuk memilih lagi, akan aku pastikan bukan dirimu yang ku pilih.
Dan sebenarnya, dari awal memang bukan dirimu yang kumau. Bukan maksud mau menyakitimu, tapi inilah kejujuranku.
Memilih untuk mencintaimu yang mencintaiku memang sulit. Keberhasilanku melupakan dia merupakan proses yang hebat, namun aku gagal untuk mencintai kamu, orang setelahnya.

Komentar
Posting Komentar