Bandung dan Permulaan Pilu





Aku pernah sebenci itu dengan Bandung.

Ketika aku pertama kali mendaratkan kaki di Bandung untuk menetap selama beberapa tahun, ternyata hal itu sekaligus menjadi akhir kisah kasihku yang pilu.

Memang Bandung sungguh memikat hati, namun Bandung dgn keindahannya itulah yang memisahkan kami.

Kami sama sama menempuh pendidikan di Bandung, di perguruan tinggi yang berbeda. Dia di barat, aku di timur. 

Meskipun masih sama sama di Bandung, tapi kisah kami tak bisa terus sama sama.

Beda kampus, beda kesibukan, merubah segalanya menjadi berbeda.

Bodohnya aku, waktu itu masih menunggu nunggu kabarnya. Ya, wajar saja sih aku pikir saat itu kesibukan membuatnya tak sempat mengabari, karena yang kutahu tugas ospeknya sangat menumpuk, berbeda denganku yang sama sekali tidak.

Sudah dua minggu berlalu dia tidak mengabariku, entah kemana. Aku hubungi pun dia tak kunjung balas.

Khawatir? Tentu.

Aku mencari cari, sampai akhirnya dia mengabari.

Notifikasi dari dia membuatku senang, namun setelah kubuka pesan darinya, aku merasa janggal.

Mengapa dia dingin sekali?

Mengapa dia beda?

Oh mungkin dia capek sekali, batinku.

Aku kira hanya kali itu saja dia begitu, ternyata makin hari dia makin dingin dan tidak mengabariku lagi.

Suatu waktu, setelah kejadian itu dia membuat stories, aku penasaran.

Ketika ku buka, Dia terlihat bahagia dengan teman teman barunya disana, tapi kenapa dia tidak pernah mengabari aku saat itu!

Aku kesal, kecewa, ingin marah. Tapi apa daya dan untuk apa aku begitu.

Aku yang bodoh ini masih menunggunya, terus menunggu hingga akhirnya beberapa Minggu dia tidak pernah berkabar lagi.

Aku dibuang, aku diabaikan, pesanku tak pernah dibalas, tiba tiba dia pergi tanpa pamit.

Sekacau itu dulu, dia mengobrak abrik perasaanku, dia hanya mempermainkanku?

Kenapa aku bodoh sekali?

Ketika aku sedang sayangnya, dia tega meninggalkanku!

Lihai sekali dia, membuat luka yang dalam dan terus membekas hingga saat ini.

Butuh usaha dan waktu yang lama untuk memperbaikinya, sudah 3 tahun lebih aku mencoba menyembuhkan luka ini. Aku harap bisa baik seperti semula, ternyata membekas.


*aku tulis ini sekitar pertengahan 2019, tiga tahun setelah dia pamit tanpa kata.

Komentar